Bandung, Bedanews.com
Memasuki Semester Genap Tahun Pelajaran 2025/2026, dunia pendidikan tidak hanya berhadapan dengan target kurikulum dan capaian akademik, tetapi juga tantangan pembentukan karakter dan makna belajar. Dalam konteks inilah Hilyatul Auliya Jilid 14 karya Abu Nu’aim Al-Ashfahani menghadirkan pelajaran penting.
“Kitab ini bukan sekadar kumpulan biografi Tabi’in Syam, melainkan peta jalan ruhani panduan nilai untuk menata proses belajar agar berujung pada transformasi diri dan peradaban. Spirit Sya’ban memberi kerangka waktunya: menanam di Rajab, menyiram di Sya’ban, dan memanen di Ramadan.” ujar Prof.A.Rusdiana saat berbincang kepada Bedanews.com,Kamis,(22/012026)
Menurut Guru besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Bandung ini mengungkapakan bahwa Spirit Sya’ban memberi kerangka waktunya: menanam di Rajab, menyiram di Sya’ban, dan memanen di Ramadan. Lima tokoh dalam Jilid 14 menegaskan bahwa perjalanan menuju Allah dimulai dari keikhlasan, dikuatkan disiplin, dijaga amanah, dijernihkan zuhud, dan disempurnakan kemanfaatan sosial. Kelima nilai ini dapat dan perlu diimplementasikan dalam pembelajaran semester genap:











