“Ini bukan bicara tentang usia dini berwirausaha untuk sekedar mencari keuntungan tetapi untuk lifestyle (gaya hidup) kedepannya tidak boros dan tidak konsumtif. Ini sebetulnya sasaran kami,” imbuhnya.
Aryanti juga mencontohkan, salah satu pengenalan karakter wirausaha pada anak usia dini dengan mengubah paradigma dan mindset, “kalau di kita misalkan anak-anak suka makan apa kita berucap besok kita beli lagi. Tapi kalau di Jepang, besok kita bikin ya,” ucapnya.
Kaitan dengan hadirnya keterlibatan narasumber dari negara sahabat, selain untuk menambah wawasan peserta seminar juga bisa mengambil nilai-nilai karakter budaya yang baik dari negara lain.
Contoh budaya perilaku yang bisa diambil dari negara Jepang misalnya, memiliki budaya penerapan disiplin yang tinggi. Seperti, budaya antri dan lainnya.











