Kelompok radikal memiliki ciri yang hampir sama dalam berhubungan dengan lingkungannya maupun dengan diri sendiri, disebutkan oleh Masduki (2013) antara lain:
- Mengklaim kebenaran tunggal dan memperkirakan kelompok lain yang tidak dapat dipisahkan.
- Mempersulit tata cara Islam yang dianut, bahwa sejatinya ajaran Islam bersifat samhah atau toleran dengan menganggap perilaku, hukum dan ibadah.
- Bersikap berlebihan dalam menjalankan ritual agama yang tidak pada tempatnya.
- Mutlak dalam berinteraksi, keras dalam berbicara terutama terkait apa yang diyakininya dan emosional dalam berdakwah atau menyampaikan pendapat.
Penyebab Kemunculan Radikalisme
Al-Qardawi (1986), menjelaskan munculnya radikalisme atau gerakan “ al-tatharruf ” disebabkan oleh:
- Pengetahuan agama yang sebagian bahkan melalui proses pembelajaran yang doktriner pada kalangan pelajar atau mahasiswa dari sekolah atau perguruan tinggi berlatar belakang umum;
- Literal dalam memahami konsep agama sehingga kalangan radikal hanya memahami Islam dari perspektif subjektif saja tetapi dan minim wawasan tentang esensi agama;
- Berlebihan dalam mengharamkan banyak hal yang memberatkan umat
- Lemah dalam wawasan sejarah dan sosiologi sehingga fatwa paham radikal sering bertentangan dengan kemaslahatan umat, akal sehat, dan semangat zaman
- Radikalisme muncul sebagai reaksi terhadap bentuk yang dianggap radikalisme yang lain seperti sikap radikal kaum sekular yang menolak agama.
- Perlawanan terhadap ketidakadilan perlakuan sosial, ekonomi, hukum dan politik ditengah masyarakat.
- Radikalisme muncul dari respon rasa frustasi dan pemberontakan terhadap ketidakadilan sosial yang disebabkan oleh lemah dan mandulnya kinerja lembaga hukum.
Kegagalan pemerintah dalam menegakkan keadilan akhirnya direspon oleh kalangan radikal dengan penerapan syari’at Islam. Dengan harapan, bila menerapkan aturan syari’at kelompok yang merasa terzalimi ini akan mampu menegakkan keadilan, namun tuntutan penerapan syariah pasti diabaikan oleh negara terutama karena tidak sesuai dengan paham bernegara, sehingga mereka frustasi dan akhirnya memilih cara kekerasan dalam menyampaikan tujuannya.













