Diakui atau tidak, krisis yang nyata dan mengkhawatirkan terjadi pada anak-anak kita saat ini sebagaimana contoh kasus di atas.
Oleh karena itu, upaya untuk meneguhkan dan mengembalikan arah pendidikan dan mengatasi krisis moral tiada lain adalah melalui pendidikan karakter.
Pendidikan karakter (akhlak) dipandang sebagai kebutuhan yang mendesak. Maka, diperlukan adanya kerjasama, minimal lima pihak, yakni guru, orangtua, lingkungan, media massa dan pemerintah selaku penentu arah kebijakan pendidikan nasional.
Guru adalah sosok orang yang digugu dan ditiru oleh muridnya dan masyarakat. Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara (RM Soewardi Suryaningrat) yang pernah mengenyam pendidikan pesantren di Kalasan, Prambanan Jawa Tengah di bawah asuhan KH Sulaiman Zainuddin mengemukakan tiga hal yang harus dimiliki seorang guru.













