KAB. BANDUNG || bedanews.com — Berdasarkan pengalaman peribadi juga beberapa sumber yang berhasil dihimpun, ternyata Hantu Kuntilanak bukan sosok wanita hamil yang saat melahirkan meninggal dunia atau keguguran, semua bisa saja diasumsikan sebagai asumsi masyarakat dengan menggambarkan sosok perempuan berdaster putih, wajahnya menyeramkan, rambutnya panjang, suka menangis atau tertawa di waktu malam.
Lalu siapakah sosok Kuntilanak itu sebenarnya, hal ini yang akan penulis coba ungkap, sebab menurut beberapa sumber, keberadaan kuntilanak merupakan pengaruh dari kebudayan yang dibawa oleh bangsa-bangsa Eropa, salah satunya Belanda yang secara tak langsung turut memperkaya narasi mengenai kuntilanak di Indonesia.
Indonesia yang secara spesifik dijajah oleh Belanda, mendapati banyak kebudayaan lokalnya mengalami asimilasi dan akulturasi dari negara kolonialnya salah satunya mengenai narasi kuntilanak. Mereka menyebutnya “White Lady” bukan Kuntilanak atau sejenisnya. Alasannya pakaian daster itu pertama kalinya memang di bawa Belanda ke Indonesia.
Kenyataan itu terus berkembang himgga sekarang, bahwa penampakan kuntilanak pasti identik dengan daster putih yang sebenarnya merupakan warisan kolonial Belanda. Padahal bila dikaji lebih dalam lagi dalam pandangan yang berbeda dengan pendekatan yang lebih ilmiah dari disiplin ilmu antropologi.
Seperti dijelaskan salah seorang antropolog asal Jerman yang menjelaskan bahwa kehadiran narasi mengenai kuntilanak di tengah masyarakat Melayu di masa lampau adalah solusi atas permasalahan keamanan yang sering diderita para kaum wanita.
Alasannya, dengan berkembangnya mitos seputar hantu ini akan memberikan efek deteren kepada setiap lelaki untuk berpikir dua kali sebelum mengganggu perempuan di malam hari.
Jadi, hadirnya kisah mitologi mengenai kuntilanak adalah bentuk proteksi yang diciptakan masyarakat untuk melindungi perempuan dari segala macam kemungkinan buruk dan resiko buruk yang dialami perempuan saat keluar di malam hari untuk kebutuhan penting, di zaman dahulu dimana akses terhadap keamanan, pengawasan dan keadilan belum sebaik sekarang adalah hal yang wajar jika masyarakat melakukan hal yang demikian.
Karena ancaman berupa pemerkosaan terhadap wanita sangat merugikan mereka, kemungkinan seperti menanggung anak hasil kegiatan pemerkosaan atau dibunuh oleh si pemerkosa adalah ancaman yang kaum perempuan hadapi.
Dari sini bisa diketahui kalau asal muasal Hantu Kuntilanak itu merupakan sikap penjagaan terhadap perempuan dari kekerasan kaum lelaki. Tujuannya agar tumbuh rasa takut terhadap lelaki untuk melakukan tindakan kekerasan.
Sebagai gambaran, penulis pun sudah beberapa kali mengalami dengan melihat langsung sosok perempuan berbaju putih dan berambut panjang, tapi tubuhnya itu transparan dan hilang lenyap dibalik tembok. Tidak seperti sosok kuntilanak yang bisa dipukul, ditendang, dan disorot lampu. Juga sosok kuntilanak itu melayang tidak berjalan kaki.
Demikian paparan yang bisa penulis sajikan agar ada pemahaman bagi kita semua. Bahwa sosok kuntilanak berbaju putih itu di zaman kolonial Belanda disebut White Lady.***













