Sukabumi, BEDAnews.com
Ketua Kwarnas (Kwartir Nasional) Gerakan Pramuka, Dr. Adhyaksa Dault, S.H., M.Si. menandaskan, kaum muda dewasa ini, dihadapkan pada dua masalah besar, yakni masalah sosial dan masalah kebangsaan. Adapun masalah sosial, mencakup maraknya penyalahgunaan NAPZA dan obat terlarang, pergaulan bebas yang mengakibatkan tingginya hubungan seksual pra-nikah, serta kekerasan dan kriminalitas. Sedangkan masalah kebangsaan dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), mencakup rendahnya solidaritas sosial, semangat berkebangsaan, semangat persatuan dan kesatuan, yang akhirnya berdampak pada rendahnya semangat bela negara, dan ancaman dis-integrasi bangsa.
Penandasan Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka tersebut, disampaikan Walikota Sukabumi, H. Mohamad Muraz, S.H., M.M., selaku Ketua Mabicab (Majelis Pembimbing Cabang) Gerakan Pramuka Kota Sukabumi, saat memberikan sambutan, pada Upacara Puncak Peringatan Ke 54 Hari Pramuka Tahun 2015 Tingkat Kota Sukabumi, hari Kamis, 27 Agustus 2015, bertempat di Lapangan Merdeka Kota Sukabumi.
Dikatakannya, ancaman ini menjadi tanggung jawab seluruh komponen bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya Gerakan Pramuka. Karena Gerakan Pramuka, merupakan penyatuan dari 60 organisasi kepanduan, tepatnya pada tahun 1961, oleh Bung Karno, yang ditujukan untuk menjadi perekat bangsa. Gerakan Pramuka yang saat ini sudah berusia 54 tahun, tentu tidak sama suasana dan kondisinya pada saat dilahirkan. Oleh karenanya, perlu diciptakan Gerakan Pramuka baru, yang diminati kaum muda. Selain itu, Pramuka juga harus dapat mengikuti perkembangan kaum muda, sehingga tidak berkesan kuno, dalam ero komunikasi digital saat ini. Sebab hampir setiap orang dan peserta didik memiliki alat komunikasi, berupa handphone dan smartphone.
Dikatakan pula, anak-anak bangsa Indonesia yang lahir antara tahun 1990-an dan tahun 2000-an, merupakan generasi cyber yang online dalam waktu 24 jam, dan berperan sebagai citizen journalism, yang selalu update statusnya, atau mengungkapkan hal-hal yang dilihat dan dirasakan saat ini atau realtime dalam Medsos (Media Sosial). Untuk itu, Pramuka harus dapat menangkap fenomena ini, dalam era kebebasan berkomunikasi. Karena apabila tidak dapat berperan sesuai dengan keinginan kaum muda, maka lambat laun Pramuka akan ditinggalkan oleh anggotanya. Disamping itu, Pramuka baru harus keren, asyik, gembira dan menyenangkan. Hal ini merupakan tantangan bagi para Pembina Pramuka, yang harus selalu kreatif dalam membina para peserta didik di gugus depannya, sehingga bangga menjadi Pramuka. Demikian pula para Pelatih Pramuka, hendaknya dapat mengembangkan dan menerapkan teknologi pendidikan yang relevan dengan zamannya, tanpa melupakan prinsip dasar dan metode kepramukaan kepada para Pembina Pramuka. (MYS)













