“Ketika pandemi, apabila sampai lockdown ini tidak bisa kemana-mana. Bisa jadi pasokan tidak masuk Kota Bandung. Kalau pasokan ini berhenti kita bisa kelaparan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Oded menuturkan, konsep Kang Pisman ini menjadi saling dukung dengan Buruan SAE. Yakni sekaligus menjadi solusi untuk persoalan sampah yang menjadi masalah utama perkotaan.
“Pengolahan sampah paling efektif itu di hulu, bukan di hilir. Artinya dari warga. Karena paling mahal biaya pengolahan sampah itu pada biaya operasional dan tiping fee. Kalau desentralisasi selesai, minimal di TPS memotong efisiensi,” ulasnya.
Sementara itu, Regional Direcktor Rikolto Indonesia, Nonie S. sangat bersyukur bisa datang ke Kota Bandung untuk melihat langsung konsep Buruan SAE.
Menurutnya, Buruan SAE merupakan implementasi yang komprehensif untuk konsep ketahanan pangan.













