Padahal kebudayaan itu, menurutnya, merupakan bukti keluhungan daerah dan bisa menjadi bagian dari aset negara. Kenyataannya hingga saat ini, pemerintah hanya mendengar saja tapi tidak berupaya untuk merangkulnya.
“Kami seolah dipaksa untuk mandiri dan berdikari, karena untuk kegiatan milangkala ini pun kami selenggarakan dari patungan pengurus, anggota, dan simpatisan saja,” ujar dia.
Dia menvisualisasikan, kebudayaan yang dibinanya itu bagian yang olrh sebagian masyarakat terlupakan, seperti tarawangsa, reog, reak, karinding, dan kesenian serta budaya lainnya.
Ini perlu pemahaman dan pemikiran secara universal tidak secara individual atau kelompok. Sebab tanpa ada campur tangan pemerintah, dia pesimis seni dan budaya Sunda bisa berkembang dengan pesat.













