Krisis pangan global sesungguhnya mengajarkan satu hal penting, bahwa kemajuan teknologi tanpa kearifan sering kali menghasilkan kerentanan baru. Sebaliknya, masyarakat adat seperti Kasepuhan Gelar Alam menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal berapa banyak yang diproduksi, tetapi bagaimana masyarakat mengelola alam, budaya, dan nilai secara berkelanjutan. Tradisi pertanian, sistem leuit, serta tata kelola komunitas yang diwariskan turun-temurun menjadikan kawasan ini contoh nyata kedaulatan pangan berbasis budaya lokal.
Di saat dunia berbicara tentang artificial intelligence, smart farming, dan digital economy, Desa Adat Gelar Alam mengingatkan kita bahwa masa depan bangsa tidak boleh tercerabut dari akar kebijaksanaannya. Mungkin sudah saatnya Indonesia tidak hanya membangun desa, tetapi juga belajar dari desa. Karena bisa jadi, solusi krisis pangan Indonesia justru tersimpan di dalam leuit-leuit sederhana yang selama ini berdiri tenang di kaki Gunung Halimun***













