Lebih jauh, manfaat terbesar justru terletak pada terbentuknya kemampuan teknologi yang menetap di Indonesia.
“Pertanyaan strategisnya bukan hanya berapa banyak pesawat yang dapat ditangani atau berapa besar investasi yang masuk. Pertanyaannya adalah kemampuan apa yang akan dikuasai Indonesia dalam 10, 20 atau 30 tahun mendatang,” ujarnya.
Menurut Budhi, apabila Kertajati mampu melahirkan teknisi unggul, industri komponen yang kuat, kemampuan rekayasa mandiri, sertifikasi internasional dan kemampuan merawat serta memodernisasi alutsista di dalam negeri, maka kawasan tersebut benar-benar layak disebut sebagai proyek strategis.
“Kertajati bukan sekadar persoalan sebuah bandara. Ia adalah kesempatan untuk membangun ekosistem kedirgantaraan Indonesia,” pungkasnya.













