UNGARAN || Bedanews.com – Melalui kegiatan fieltrip Religiositas di DWKP (Desa Wisata Kreatif Perdamaian) hari ini, anak-anak SD Karangturi diajarkan untuk saling menghargai perbedaan dalam keberagaman, juga mencintai Alam”.
Demikian disampaikan oleh Kepala SD Karangturi, Eko Margiati, melalui Wakil Kepala bidang Kurikulum, Widiyanto, saat memberikan sambutan di aula joglo DWKP, Selasa (20/10/2026).
Senada disampaikan oleh salah satu guru agama, Ustadz Noor Salim, kepada sejumlah awak media usai giat. Dia menyampaikan bahwa, pembelajaran Ekoteologi penting bagi siswa.
“Ekoteologi memadukan antara praktek kehidupan beragama dengan kesadaran ekologis, diharapkan anak memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan lingkungan alam sekitar,” ujar Ustadz Salim guru agama Islam.
Salah satu siswa, Ganendra, menyampaikan rasa senangnya. “Pokoknya JOS-JIS, saya dan teman-teman senang sekali, bisa menanam bersama, berdo’a 6 Agama juga hiling ke alam perbukitan,” kata Gane siswa kelas 3b.
Hadir mendampingi acara fieltrip Religiositas, 6 guru lintas agama, wali kelas, BK serta narasumber.
Acara diawali dengan do’a lintas agama, materi Religiositas, menanam dan refleksi. Secara berurutan, para narasumber menyampaikan sebagai berikut:
– PERTAMA, Agama Islam oleh Ustadzah, Desi Natalia. Dia menjelaskan bahwa, Islam ajarkan mencintai alam sebagai ciptaan Allah, melarang merusaknya. QS. Al A’raf ayat 56.
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik”.
– KEDUA, Agama Kristen oleh Bapak Estu. Disampaikan bahwa, Kristen mengajak peduli terhadap Alam, sebagaimana dalam kitab kejadian pasal 2 ayat 15.
“Lalu Tuhan mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara”.
– KETIGA, Agama Katolik oleh Bapak Nico, menyampaikan pesan untuk muliakan Tuhan dengan tindakan kasih terhadap sesama.
Sebagaimana dalam Markus 12:31, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.”
– KEEMPAT, Agma Hindu oleh Ibu Lestari Putri. Ajaran Tri Hita Karana, Alam ibarat Ibu, sudah menyediakan sesuatu yang dibutuhkan manusia, maka harus sayang dan menjaga.
“Dahulu kala, Prajapati menciptakan manusia bersama dengan yadnya”.
– KELIMA, Agama Budha oleh Ibu Rinda, menegaskan bahwa, bumi adalah rumah kita, maka harus bisa hidup berdampingan, apa yang kita perlakukan terhadap alam akan kembali ke manusia.
Hal itu tercantum dalam Kitab Tipitaka, Karaniya Metta Sutta,
mengajarkan untuk memancarkan cinta kasih tanpa batas ke segenap alam semesta.
– KEENAN, Agama Konghucu oleh Lause Andi. Aktifis Matakin ini menyampaikan bahwa, agama Konghucu mengajarkan mensyukuri anugerah Tuhan. Contoh sederhana menjaga alam dengan menghabiskan makanan.
Dalan Kitab Li Ji, dijelaskan, “Sekali memotong pohon, sekali menyembelih hewan tidak pada waktunya, itu melanggar laku bakti.”
“Sebuah pesan khusus; “10 tahun membuat hutan, 100 tahun mendidik manusia”,” ungkas Andi. (Red).













