Lebih lanjut, Dadan menjelaskan bahwa, program MBG memiliki cakupan luas yang meliputi ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga seluruh anak sekolah sampai usia 18 tahun. Hal ini krusial, mengingat data menunjukkan 60% anak Indonesia masih jarang mengonsumsi susu dan belum memiliki akses terhadap menu gizi seimbang.
Selain dampak kesehatan, Dadan menilai program ini telah menjadi motor penggerak ekonomi daerah melalui penyerapan anggaran sebesar Rp60 triliun yang tersebar di seluruh Indonesia. Saat ini, telah berdiri 27.000 Satuan Pelayanan Makan Bergizi (SPPG) yang memberdayakan potensi ekonomi lokal, seperti peningkatan harga komoditas jeruk di Jember dari Rp4.000 menjadi Rp14.000 akibat tingginya serapan program.
“(Program MBG) ini tidak hanya mengintervensi pemenuhan gizi, tapi juga menggerakkan roda ekonomi,” tambahnya.













