“Memang pada waktu itu kondisinya dalam keadaan capek,” ungkap dia.
Menurut dia, pemukulan itu terjadi pada 30 September malam.
Kejadian ini berawal dari robohnya pagar Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat oleh pendemo yang menolak pengesahan rancangan undang-undang.
“Pagar runtuh. Kita benerin lagi, tanggal 30 demo lagi. Pagar rubuh lagi. Dan kita betulkan kembali,” katanya.
Dalam peristiwa itu, menurut dia Taufik ingin perbaikan pagar agar segera diselesaikan. Namun, karena pihaknya tidak sanggup menyiapkan tenaga kerja yang banyak, protes dilakukan Taufik sehingga akhirnya terjadi pemukulan.
“Mungkin akibat konsentrasi, kecapean, lelah, Pak Ketua spontan (memukul). Akibatnya terjadi (pemukulan) hal diluar prediksi, spontanitas. Mungkin kelelahan, jadi beban,” katanya.













