Di tengah arus digitalisasi, disrupsi teknologi, dan perubahan sosial yang cepat, generasi muda menghadapi tantangan kompleks: krisis literasi, degradasi etika, dan lemahnya ketahanan karakter. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kemajuan teknologi dan kematangan nilai. Dalam perspektif teori pendidikan humanistik dan konstruktivisme sosial, pendidikan tidak hanya membangun kognisi, tetapi juga kesadaran, karakter, dan tanggung jawab sosial. Pemikiran R.A. Kartini, khususnya dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, menegaskan pendidikan sebagai jalan emansipasi, pencerahan, dan pemberdayaan. Namun, dalam konteks kekinian, muncul gap antara idealitas nilai Kartini dan praktik kehidupan Gen Z yang cenderung pragmatis dan instan. Sebagai Guru Besar Manajemen Pendidikan, penulis melihat pentingnya reaktualisasi nilai Kartini dalam kerangka pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Tulisan ini bertujuan menjawab tiga pertanyaan mendasar dari Media Bedanews terkait relevansi Kartini bagi Gen Z.













