“KKN bukan sekadar menggugurkan kewajiban SKS, tapi ujian empati,” ujar Gus Rofik di hadapan jajaran pemerintah lokal. Ia menekankan agar para mahasiswa mampu melebur dengan kearifan lokal tanpa menggurui, membawa semangat dakwah yang sejuk dan solutif bagi warga Kandri.
Kedatangan rombongan akademisi ini disambut hangat oleh Lurah Pucung, Estu, S.Pd., S.H.I., bersama Dukuh Kandri, Nur Harningsih, serta jajaran staf Kalurahan Pucung. Senyum meriah para pamong kalurahan meluluhkan kecanggungan sembilan mahasiswa yang akan menetap dan berinteraksi selama satu bulan ke depan.
Bagi warga Dusun Kandri, kehadiran mahasiswa STAI Yogyakarta membawa harapan segar. Estu mengungkapkan bahwa kolaborasi antara pemikiran akademis kampus berbasis keagamaan dan potensi lokal sangat dibutuhkan untuk menggerakkan dinamika sosial serta pendidikan anak-anak di pelosok Girisubo.













