Tidak terpikirkan ada yang ingin memimpin organisasi profesi ini lebih dari dua kali. Alasannya sederhana, mengelola lembaga yang beranggotakan belasan ribu orang, atau saturan orang di tingkat provinsi, bukan hal muda apalagi anggaran hanya bisa ada kalau diusahakan melalui kerjasama atau bantuan.
Uang tidak ada, masalah segudang, anggotanya semua orang yang pintar, independen dan bersikap merdeka seperti seniman, maka menjadi ketua memiliki tantangan yang sangat besar. Tidak hanya pikiran dan tenaga, materi pun kadang harus dikorbankan agar organisasi dapat berjalan baik.
Kalau ternyata ada yang ingin lebih dua kali, ini tentu luar biasa dan menarik untuk dikaji. Apakah privilege nya begitu tinggi sehingga berani berkutat dengan persoalan-persoalan yang menguras tenaga dan pikiran? ***













