Kembali ke Nilai
Kembali ke nilai bukan berarti mundur ke masa lalu. Sejatinya nilai menjadi fondasi kemajuan. Kejujuran sebagai dasar kebijakan, amanah sebagai roh kekuasaan, keadilan sebagai orientasi pembangunan, dan empati sebagai jiwa kepemimpinan. Allah SWT mengingatkan: “Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang wasath (adil dan seimban… Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang wasath (adil dan seimbang).” (QS. Al-Baqarah: 143). Isra Mi’raj adalah undangan refleksi kolektif. Jika Nabi diperjalankan ke langit untuk kembali membenahi bumi, maka segenap warga bangsa pun perlu melakukan ‘mi’raj nilai’ agar tidak kehilangan jati diri dalam arus zaman. Bangsa yang kembali ke nilai adalah bangsa yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga bermakna. Tidak hanya maju, tetapi juga bermartabat.
Banyak manusia termasuk kita ingin “mi’raj”, ingin naik derajat, ingin tenang, ingin hidup bermakna. Tapi lupa bahwa Isra selalu mendahului Mi’raj. Ada perjalanan sunyi yang harus dilewati, ada luka, ada fase tidak dimengerti siapa pun. Isra Mi’raj mengingatkan kita, bahwa tidak semua penderitaan adalah hukuman, tidak semua penolakan adalah akhir, dan tidak semua luka perlu diumumkan. Sebagian bisa jadi sedang diproses oleh langit. Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan Nabi, namun petunjuk dan peta batin bagi manusia beriman. Bahwa ketika dunia menutup semua pintu, Tuhan tidak selalu mengubah keadaan, Tuhan mengangkat jiwa lebih tinggi agar kita sanggup kembali dan melanjutkan perjalanan.
Selamat memperingati Isra Mi’raj.
Bagi siapa pun yang sedang letih hari ini,
bisa jadi, langit sedang menyiapkan perjumpaan yang lebih menguatkan












