Oleh : Lilis Sulastri
(Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Setiap 27 Rajab, umat Islam memperingati Isra Mi’raj sebagai peristiwa agung , perjalanan Nabi Muhammad SAW menembus batas ruang dan langit, menerima perintah Salat langsung dari Allah. Namun sering kali, kita merayakan hasilnya tanpa sungguh-sungguh merenunginya. Padahal, Isra Mi’raj bukan hadiah bagi Nabi yang sedang bahagia, melainkan penguatan ilahi bagi Rasul yang sedang berada di titik paling rapuh dalam hidupnya.
Peristiwa Isra-Mi’raj tidak lahir dari situasi nyaman. Isra Mi’raj terjadi setelah ‘Aamul Huzn, adalah tahun kesedihan Nabi. Dalam waktu yang berdekatan, Rasulullah SAW kehilangan Khadijah, istri, sahabat, sekaligus pelindung dan penopang batin terkuat, serta Abu Thalib, pelindung sosial dan politiknya. Tidak hanya kehilangan yang begitu dalam, Rasulullah juga menerima Penolakan keras di Thaif, hinaan, lemparan batu dan kekerasan fisik, serta di usir tanpa perlindungan memperparah tekanan psikologis yang di alami. Secara manusiawi, kondisi tersebut menjadi titik nadir seorang muhammad yang kehilangan dukungan, kehilangan rasa aman, bahkan kehilangan harapan. Dari titik terendah inilah Allah memperjalankan Nabi, bukan kebetulan sejarah, melainkan perjalanan dengan pesan nilai yang sangat kuat, menjadi titik kebangkitan sejati yang tidak lahir dari kejayaan, tetapi dari kesetiaan pada nilai di tengah penderitaan. Sebagaimana Allah SWT berfirman: “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra: 1). Ayat ini menegaskan bahwa Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan nilai dan makna. Nabi disebut sebagai ‘abd, artinya hamba. Identitas tertinggi manusia bukanlah pemimpin, tokoh, atau figur publik, melainkan hamba yang tunduk pada nilai ilahiah.
Isra Mi’raj adalah salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam yang dipahami sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad menembus batas ruang dan langit, Isra adalah perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, bukan sekadar perpindahan tempat. Perjalanan ini adalah simbol bahwa bumi yang kejam sering kali terlalu sempit bagi orang yang lurus. Ketika Makkah menolak, ketika manusia menutup pintu, maka Allah membuka jalan yang tak pernah dibayangkan. Pesan yang dapat kita ambil adalah ‘ Jika dunia membuatmu sesak, jangan berhenti, naiklah’.










