Sungguh ironi Indonesia saat ini ranking ke-4 dunia dan ke-2 di Asia Tenggara dalam hal balita stunting (gizi buruk). Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani Aher dalam keterangan pers, mempertanyakan bagaimana kita bisa mencetak sumber daya manusia yang unggul jika stunting masih menjadi momok yang menghantui negeri ini. Negara juga harus menjamin agar semua keluarga mampu tumbuh kembang secara optimal, tambahnya. Termasuk dalam penanganan gizi dan pelayanan kesehatan (merdeka.com.21/12/2020).
Semua orang tentu tidak ingin keluarganya mengalami stunting. Namun keadaan ekonomi yang membuat semuanya terjadi. Himpitan ekonomi jadi hal yang biasa dihadapi sehari-hari ditengah masyarakat. Tak heran kalau sampai mendorong sebuah keluarga melakukan tindakan kriminal seperti mencuri bahkan oleh anak-anak usia dini. Namun, bagi mereka yang kuat iman. Mereka rela berlapar lapar ria menahan sakit perut. Karena saking tidak adanya makanan yang harus dimakan. Ini semua dampak dari sistem demokrasi.













