
Dalam sesi diskusi yang berlangsung selama kongres, berbagai tantangan yang dihadapi dunia riset di Indonesia menjadi perhatian utama. Salah satunya adalah rendahnya alokasi anggaran untuk penelitian. Selain itu, kurangnya pengakuan terhadap profesi periset juga menjadi isu yang disoroti.
“Tantangan ini harus kita ubah menjadi peluang. Transformasi organisasi adalah kunci untuk menjadikan PPI lebih mandiri dan profesional. Kita harus memastikan setiap hasil riset memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan pembangunan,” tegas Syahrir.
Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor, baik dengan pemerintah, sektor swasta, maupun lembaga internasional. “Kolaborasi adalah kunci untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, riset memegang peran sentral dalam inovasi dan daya saing bangsa,” tambahnya.













