Disebutnya, keberadaan CoE untuk memastikan program MBG berjalan efektif, terukur, dan berdampak nyata.
Lebih lanjut, Dr Alfian Helmi mengatakan, ada pertanyaan mendasar: mengapa IPB merasa terpanggil sehingga perlu terlibat dalam pengembangan MBG ke depan? Jawabannya ada pada kondisi MBG secara nasional yang masih memerlukan peningkatan tata kelola dan belum semua ekosistem hulu-hilirnya terbangun, ujarnya.
Dikatakannya, ada sejumlah persoalan MBG di lingkup nasional yang membutuhkan kepedulian institusi pendidikan tinggi sebagai gerbong keilmuan dan kepakaran. “Dari ribuan SPPG yang terdaftar di Badan Gizi Nasional, belum semua memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. Belum lagi persoalan konsistensi mutu gizi, ketergantungan pada rantai pasok yang rapuh, minimnya pengawasan berbasis data, dan lemahnya pemberdayaan komunitas lokal sebagai pemasok,” urainya.













