• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Sabtu, November 7, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home » Ini kata Kang HAS tentang Perubahan Jawa Barat menjadi Tatar Sunda

Ini kata Kang HAS tentang Perubahan Jawa Barat menjadi Tatar Sunda

Ki Agus by Ki Agus
9 Juli 2026
in Edukasi, Headline, News, Politik
0
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KAB. BANDUNG || bedanews.com — Mengenai adanya keinginan dari komunitas dan pegiat budaya sunda mengusulkan Perubahan Jawa Barat menjadi Tatar Sunda, dikatakan tokoh masyarakat Kabupaten Bandung, H. Asep Syamsudin, Rabu 8 Juli 2026, usulan tersebut diterima oleh DPRD c.q Komisi I di kantor DPRD Jabar untuk ditindaklanjuti pembahasannya.  Jadi DPRD belum resmi menyetujui seperti yang tersebar di media.

Saat ini melalui rapat Komisi I DPRD Jabar, lanjut Kang HAS sapaan akrabnya, sudah merekomendasikan agar usulan peubahan nama menjadi Provinsi Tatar Sunda dibahas terlebih dahulu secara menyeluruh oleh Eksekutive Provinsi Jabar.

“Sebagai opini pribadi, Perubahan nama Provinsi Jabar menjadi Provinsi Tatar Sunda tidak terlalu urgen, tidak mendesak, dan dapat memicu disintegrasi etnis dan wilayah,” katanya melalui telepon selular.

Sebagai contoh, ungkap legislator senior PKB itu,
Jawa Barat itu terdiri dari 3 etnik yaitu Sunda, Betawi, dan Cirebon. Jadi bagaimana bila etnis Betawi dan Cirebon jika Jawa Barat menjadi Tatar Sunda, apakah tidak akan memicu juga untuk kemudian Cirebon dan Betawi memisahkan diri.

BeritaTerkait

Pemkab Kapuas Susun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah, Libatkan Lintas Sektor dan Akademisi

6 November 2026

Ekoteologi dalam Inovasi, Pendidikan, dan Pengabdian

6 November 2026

Bila terjadi demikian maka efect nya akan liar termasuk tentang distribusi  piskal yang sejatinya Jawabarat mendapat lebih berkeadilan mengingat Jabar memiliki populasi terbanyak secara demokratis.

Kang HAS yang juga anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat memnerikan penjelasan sejarah Jawa Barat membentang dari era Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5 hingga pembentukan provinsi oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1925. Wilayah ini telah lama menjadi pusat peradaban penting di Nusantara, mencakup kerajaan Hindu-Buddha, kesultanan Islam, hingga perjuangan kemerdekaan.

Ini garis besar kronologi sejarah Jawa Barat pada era Kerajaan Tarumanagara (Abad ke-5 hingga ke-8): sebagai pusat kekuasaan tertua di Jawa bagian barat. Peninggalan kerajaan ini dibuktikan dengan ditemukannya tujuh prasasti berbahasa Sansakerta dan beraksara Wengi di wilayah Jawa Barat.
Era Kerajaan Sunda / Pajajaran (Abad ke-8 hingga akhir abad ke-16) yang setelah keruntuhan Tarumanagara, kekuasaan dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda yang berpusat di Pakuan Pajajaran (kini wilayah Bogor). Kerajaan ini terkenal di masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja.

Era Kesultanan (Abad ke-15 hingga ke-16) saat Islam mulai menyebar dan membentuk kekuatan politik baru di wilayah pesisir, yang melahirkan Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten.

Selanjutnya Masa Kolonial Belanda (Abad ke-17 hingga ke-20) dimana VOC dan pemerintah Hindia Belanda menjadikan wilayah ini sebagai pusat perkebunan dan administrasi yang penting. Pada masa ini, Gubernur Jenderal Daendels membangun Jalan Raya Pos (Jalur Pantura) yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan.

Terahir pembentukan Provinsi & Kemerdekaan (1925 – Sekarang): Pemerintah kolonial secara resmi membentuk Provinsi Jawa Barat pada tahun 1925. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, wilayah ini sempat menjadi Negara Pasundan pada 1949 sebelum akhirnya kembali bergabung dengan Republik Indonesia pada 1950.

“Jadi penggantian nama Provinsi Jawa Barat itu tidaklah menjadi prioritas yang harus dikedepankan sebagai suatu perbedaan signifikan. Visualisasinya Provinsi Jawa Barat masih tetap kokoh berdiri bisa mendampingi perkembangan zaman dan laju perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Mengusulkan itu bisa merupakan bagian dari penyampaian aspirasi masyarakar, tapi memaksakannya untuk bisa direalisasikan jelas membutuhkan waktu. Karena perubahan nama bisa merubah suatu ekosistem, budaya, adat istiadat, bahkan akan menimbulkan permasalahan admintrasi pelayanan publik nantinya.***

Tags: jawa baratkang hastatar sunda
Previous Post

Dr.Ecep Ismail, M.A: Ushuluddin Go Digital Lewat SISTER

Next Post

Panglima TNI Perkuat Kerja Sama Strategis dengan Panglima Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand

Related Posts

News

Pemkab Kapuas Susun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah, Libatkan Lintas Sektor dan Akademisi

6 November 2026
Edukasi

Ekoteologi dalam Inovasi, Pendidikan, dan Pengabdian

6 November 2026
Politik

Ono Surono Dorong Optimalisasi PAD, Hindari Potensi Tunda Bayar

5 November 2026
News

Antisipasi Gangguan Operasional Pesawat, FDI Tasikmalaya Imbau Pilot Drone Tertib Aturan dan Koordinasi

5 November 2026
Edukasi

DPRD Jabar Berharap Seluruh Venue Pertandingan Proprov Dipersiapkan Secara Optimal

5 November 2026
Politik

Penyadapan Presiden Oleh Listyo Sigit, Jokowi Harus Diperiksa

5 November 2026
Next Post

Panglima TNI Perkuat Kerja Sama Strategis dengan Panglima Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com © 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com © 2021