“Dalam satu hari pabrik briket di Saguling, mampu mengolah 3 ton sampah menjadi 1 ton briket. Sampah yang ada di waduk ini dikumpulkan bersama gulma (eceng gondok) nya. Kemudian, diolah jadi briket dan diproses menjadi energi listrik,” ujarnya.
Tahun 2020 ini, pabrik akan dikembangkan dengan mesin yang lebih besar lagi, sehingga bisa menghasilkan satu Mega Watt (MW) listrik. Sekarang ini, listrik yang dihasilkan baru 10 Kilo Watt (KW), masih untuk penggunaan pabrik briket sendiri.
Lebih lanjut dikatakannya, untuk mengolah sampah dan gulma dari waduk Saguling, pihaknya memberdayakan kelompok tani keramba jaring terapung agar beralih profesi menjadi petani briket. Apalagi sudah ada kajian untuk pengurangan keramba di waduk Saguling, yang saat ini, Jumlah keramba jaring terapungnya sudah mencapai angka 35 ribuan, sudah melampaui daya dukung waduk Saguling.













