Banyumas, BEDAnews.com
Identik jamur tumbuh subur di musim penghujan, pers yang pada tanggal 9 Pebruari 2017 kemarin telah memasuki usia ke-71 telah berkembang sedemikian pesat, seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang begitu cepat. Berbagai mass media cetak maupun elektronik telah menjamur bukan hanya di pusat ibu kota Jakarta, tapi juga di kota-kota propinsi, bahkan tersebar bermunculan di berbagai kota daerah/kabupaten.
Para pemerhati masalah sosial kemasyarakatan dan pendidikan di Kabupaten Banyumas, seperti Kepala Sekolah Pelayaran Menengah Nasional (SPMN) Purwokerto, Dr. H Warman Soeharno, SH, SE, MM, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas Drs. Purwadi Santoso, M.Hum dan Kepala Kantor Kementrian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Ir. Agus Wiyono MEng Sc, serta pemerhati masalah-masalah sosial kemasyarakatan dr. Herumoyo, SH, MH, SpB menilai dengan maraknya media-media informasi tanpa kendali sehingga masing-masing punya kepentingan untuk berkompetensi.
“Apabila dalam situasi dan kondisi suhu politik sedang naik, khususnya diibukota mengakibatkan nuansa demokrasi menjadi semakin kabur, sementara penyajian berita yang sepotong-potong semakin membingungkan masyarakat yang memiliki kepekaan terhadap setiap perkembangan yang terjadi ditengah masyarakat,” ujar Kepala SPMN Purwokerto, Warman Suharno saat ditemui wartawan media ini kemarin.
Peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi di ibukota dinilai sangat memprihatinkan, semua ingin mempertahankan NKRI, Pancasila dan Undang-Undang “Tapi kalau sudah ada nuansa politik yang masuk, semua jadi punya tujuan yang berbeda-beda sehingga semakin melemahkan persatuan dan kesatuan bangsa,” tambah Warman.
Dia berharap, agar para personel pers atau para awak media yang sudah tergolong senior malang melintang di lapangan mampu berperan aktif membenahi kondisi sosial masyarakat, ikut serta menciptakan stabilitas nasional termasuk para insan Pers, awak media yang masih muda baru menapaki gelanggang pergulatan dan kreatifitas bersama-sama dengan para intelektual, cendekiawan dan aktifis lainnya, jelas Warman.
Secara terpisah Kepala BPN Agus Wiyono mengungkapkan, Kalau Pers sudah tidak netral, tidak obyektif, termasuk kurang cepat menyampaikan informasi yang faktual, sehingga butuh SDM para personel pers yang handal di samping sarana prasarana yang memadai, ujar Agus Wiyono.
Menurutnya, sekarang proses penyebaran informasi tidak terbatas dan sangat cepat maka kalau media tidak bisa obyektif akan dicemooh dan jadi bulan-bulanan. “Idealnya cepat dalam menyampaikan informasi, tapi obyektif tidak memberikan informasi yang tidak benar,” tambahnya.
Dewan pers yang merupakan induk dari berbagai mas media cetak maupun elektronik yang tersebar di seluruh nusantara, telah berupaya memberikan sumbangsih sesuai dengan tugas pokok pers kepada bangsa dan negara menciptakan karya-karya bermanfaat melalui materi berita yang akurat, obyektif dan transparan meski terkadang ada penyajian informasi/berita yang kurang obyektif barangkali karena data yang tidak/kurang valid.
“Yang tidak boleh dilupakan adalah bagaimanapun kondisinya, pers harus tetap tegar, berjuang untuk kesejahteraan masyarakat, menciptakan masyarakat yang tahan terhadap situasi dan kondisi sosial ekonomi yang berubah-ubah, sehingga para insan pers harus selalu obyektif menyajikan informasi/berita yang positif, edukatif dan konstruktif,” ujar Kepada Dinas Pendidikan Drs. Purwadi Santoso, M.Hum saat ditemui wartawan media ini di ruang kerjanya pekan lalu.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Herumoyo, SH, MH, SpB pola pikir para insan pers dalam menjalankan tugas jurnalistik mencari, mengolah dan menyajikan berita harus dilandasi dengan iman kepada Tuhan sehingga informasi berita yang dikemas akan menjadi obyektif dan berkualitas.
“Wartawan memiliki posisi strategis sebagai political infrastruktur alat kontrol sosial, harus memiliki akhlak yang baik, bertanggung jawab kepada Tuhan, masyarakat, bangsa dan negara sesuai dengan fungsi dan tugasnya,” katanya.
“Wartawan tidak perlu takut, untuk menyampaikan kritik sosial yang positif dan membangun, membuka kedok atau kebrobrokan sepanjang itu bukan fitnah,” tambah Dr Herumoyo, yang juga pembina IPWP (Ikatan Paseduluran Wartawan Panginyongan) Banyumas.
Dirgahayu Hari Pers Nasional Ke 71/ 9 Pebruari 2017. (Widoyo)













