Terlepas dari itu, yang harus dijadikan pertanyaan Selanjutnya apa setelah Ramadhan? Lalu apa setelah Ramadhan? Bagaimana syawal kita? dzul qa’dah dzul hijjah dan seterusnya?
Dari itulah, sejatinya berhari raya adalah bertambah taat bukan berbangga dengan suka cita sesaat. Rasulullah SAW bersabda: ”Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan diri dengan baik dan bekerja didunia untuk kehidupan selanjutnya, sebaliknya orang yang lemah adalah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya sambil ber harap kepada Allah tanpa taubat dan istigfar”.
Persoalan selanjutnya, Bagaimana membangun rangkaian amal di masa depan setelah Puasa ramadhan dan Idul Fitri?
Ada dua hal yang perlu kita perhatikan dan dilaksanakan yakni:
Pertama; Iman dan Keyakinan. Kokohkan iman kita kepada Allah SWT, bersihkan, murnikan tauhid kita karena itu merupakan pangkal dan pusat segenap kebaikan dan kemuliayaan. La ilahaillallah muhammadurrasululah tiada Tuhan selain Allah Muhammad utusan Allah. Itulah sahadat yang mebuka seluruh ruang kebaikan membebaskan manusia dari belenggu kesesatan menghadirkan kemuliaan dalam kehidupan Rasulullah yang mulia menyampaikan hadis qudsi Allah SWT berfirman “Ucapan tauhid adalah bentengku, siapa saja yang masuk kedalamnya niscaya selamat dari azabku”. Itulah ucapan yang menjadi energi terbesar dalam perjalanan umat manusia dalam bentang sejarah yang panjang, mengeluarkan manusia dari kegelapan akibat kekufuran dan kebodohan menuju cahaya iman dan ilmu pengetahuan.













