Saya melihat kesungguhannya dalam mengelola pesantren warisan orang tuanya. Ia merawat apa yang telah dibangun para pendahulu, sambil mencari jalan agar lembaga itu terus berkembang dan manfaatnya semakin luas. Kepeduliannya juga tidak berhenti pada pesantrennya sendiri. Pesantren yang sudah baik ia dukung, yang menghadapi keterbatasan ia bantu agar dapat bangkit dan maju.
Kerja seperti itu sering kali tidak terdengar. Tidak selalu masuk pemberitaan dan tidak selalu menjadi bahan perbincangan. Padahal, warga pesantren memahami bahwa perubahan besar lahir dari ketekunan mengurus hal-hal yang tampak kecil: memperbaiki mutu pendidikan, memperhatikan santri, menguatkan guru, dan memastikan pesantren tetap tegak menghadapi perubahan zaman.
Saya pernah bersama Gus Yusuf dalam kepengurusan PBNU, khususnya di Rabithah Ma’ahid Islamiyah. Dari situ, saya mengenalnya sebagai kader yang memahami dunia pesantren dan mengerti watak perjuangan NU. Pengalamannya dalam organisasi, termasuk di PKB, melatihnya membangun komunikasi, merawat hubungan, serta bekerja bersama banyak pihak tanpa kehilangan akar tradisinya.













