Rokhmin kemudian menyoroti pekerjaan rumah dari sisi perkembangan teknologi yang membuat Indonesia hanya dipandang sebagai negara kelas tiga.
“Teknologi kita pun masih kelas tiga. Artinya suatu bangsa kebutuhan teknologi lebih dari 70 persen impor. Kalau negara maju atau teknologi inovator country, itu lebih dari 70 persen teknologi diproduksi negara sendiri,” katanya.
Kemudian, kata Rokhmin, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak sesuai target yang seharusnya mencapai setidaknya 7 persen.
“Pertumbuhan ekonomi yang rendah, memang kita harus tumbuh at least seven persen. Mungkin yang menjadi relevan adalah penyebab kita itu masyarakat terbelah, zaman 2019 itu kadrun vs kampret, sekarang itu Paman Usman vs demokrasi. Tepuk tangan bagi kita yang mau mengalahkan Paman Usman,” kata Rokhmin.













