Rokhmin mengatakan, pekerjaan rumah kepala negara di sektor ekonomi dan teknologi masih banyak ketimbang mengurusi perpolitikan.
Semisal, pendapatan perkapita Indonesia yang tak sebanding dengan jumlah penduduk dan kekayaan alam melimpah di Tanah Air.
“Secara ekonomi, sebanarnya enggak baik-baik amat karena kalau secara korelatif, kan, harusnya ekonomi kita terbaik keempat kalau penduduk kita terbesar keempat, resource kaya, tetapi lihat di sini, kita hanya di rangking 16 hanya USD 1,3 Triliun. Jadi, kalau USD 1,3 Triliun, dibagi 278 juta penduduk, kita ketemunya pendapatan perkapita USD 4.580. Itu Indonesia hanya berkategori sebagai negara berpendapatan menengah atas, tetapi di jajaran bawah, karena pendapatan menengah ke atas itu dari USD 4.466 sampai USD 15 ribu. Kita baru 4.580. Jadi, menengah atas di posisi bawah. Kalau kita mau klaim sebagai negara maju makmur, pendapatan per kapita itu harus USD 13.845. Jadi, dalam bahwa Aceh-nya, masih jauh panggang dari api,” kata Rokhmin.













