Apa yang diupayakan bapak Bupati Bandung tentang harapannya pada generasi muda layak diacungi jempol, tapi harapan tersebut harus sebanding dengan sistem pendidikan pada saat ini. Sementara sistem pendidikan di negeri ini masih menginduk pada kurikulum Barat yang lebih mengedepankan program merdeka belajar, vokasi atau sejenisnya, yang menyebabkan peran akhlak dan agama dikesampingkan. Maka yang terjadi adalah kebebasan perilaku pelajar kian mengkhawatirkan. Pergaulan bebas, tawuran, bullying, geng motor, adalah beberapa kasus yang dilakukan generasi remaja. Mirisnya negara seolah tutup mata dengan kasus yang menimpa saat ini padahal negara dengan sistemnya lah faktor terbesar kerusakan perilaku itu terjadi.
Jika sistem yang diadopsi masih sekuler sebagaimana sekarang, pendidikan apapun yang ada di sekolah maupun di pesantren akan sulit mewujudkan generasi muda yang idealis sebagai agen perubahan dunia. Yang nampak justru generasi yang menjadi agen atau duta kapitalis seperti duta budaya, duta wisata, duta moderasi dan lain-lain. Akhirnya, potensi pemuda lebih banyak dinilai dengan pencapaian akademis dan karya yang bersifat materi saja. Tapi tidak dilihat akhlak dan akidahnya sesuai dengan Islam atau tidak. Generasi muda pada saat ini lebih condong meniru budaya Barat yang mengusung kebebasan dan jauh berbeda dengan Islam. Generasi muda lebih mengidolakan K-pop daripada mengidolakan Rasulullah saw. Mereka juga lebih bersifat hedon, foya-foya, dan tidak mengedepankan prestasi. Inilah akibat dari sistem rusak dan merusak yaitu sistem kapitalis sekuler. Yang membuat para generasi muda lemah imannya.













