Garut, BEDAnews
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Zatzat Munazat melalui Sekretaris BPBD, Yosep Ruslan menuturkan, berbagai kejadian bencana selama rentang Januari hingga Mei 2013, dialami oleh sebanyak 3.579 kepala keluarga (kk) korban atau setara 12.614 jiwa. Kejadian tersebut mengakibatkan 5 orang meninggal dunia dan 2 orang terluka. Selain itu, sebanyak 208 kk atau setara 824 jiwa juga sempat mengungsi.
Kerusakan material, sebanyak 54 unit rumah dan bangunan lainnya tercatat hancur, sebanyak 93 unit rusak berat, sebanyak 1.566 unit rusak sedang, dan sebanyak 1.119 unit rusak ringan. Sebanyak 205 unit di antaranya juga dalam kondisi terancam. Kejadian bencana pun menimpa sedikitnya satu bangunan sekolah, 4 tempat ibadah, 10 titik areal persawahan, dan 8 titik areal daratan.
Garut memang daerah paling rawan terjadinya bencana, dibandingkan daerah lain di Jawa Barat, bahkan di Indonesia, karena kondisi geografisnya. “Segala potensi bencana ada di Garut, mulai tsunami, letusan vulkanik, gempa bumi, tanah longsor, banjir hingga kekeringan. Tak heran jika bencana di Garut terjadi setiap tahun," kata Ruslan, kepada BEDAnews.com Jumat (21/6).
Untuk itu, masyarakat Garut setiap waktunya dituntut kewaspadaan mendeteksi potensi rawan bencana di daerah sekitar tempat tinggalnya. Sebab bencana bisa terjadi sewaktu-waktu. Dari sekian banyak kejadian bencana pada 5 bulan pertama di 2013, selain bangunan rumah, banyak sarana fasilitas umum rusak akibat bencana. Antara lain jembatan, jalan, dan irigasi, sehingga dibutuhkan biaya sangat besar untuk perbaikan semua sarana fasilitas yang rusak tersebut.
Perbaikan sarana fasilitas umum ini tak mungkin diperbaiki lewat BTT (Biaya Tak Terduga) karena alokasi BTT itu kecil. Paling bisa didorong ke anggaran perubahan, seperti perbaikan jembatan Ciogong Desa Mekarsari di Kecamatan Cibalong, dan jembatan di Padamukti Kecamatan Pasirwangi. Yang lainnya bahkan mesti dibantu Pemerintah Provinsi dan Pusat," jelas Ruslan.
Selain faktor kondisi alam, lanjutnya, banyaknya bencana di Kabupaten Garut juga tak terlepas dari bertambahnya jumlah penduduk yang tak disertai peningkatan kesadaran menjaga kelestarian lingkungan.
Pihaknya pun terus berupaya membuat pemetaan daerah rawan bencana, dan tak henti-hentinya melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya mewaspadai potensi bencana, sekaligus melakukan langkah antisipasi dan mitigasinya. Hal itu agar kalaupun terjadi bencana, dampaknya dapat meminimalisir. (Sighar)











