Diskusi juga menyoroti pentingnya personalisasi dalam menjaga relevansi keris pusaka. Di era digital, keris tidak lagi sekadar benda pusaka yang diwariskan, tetapi dapat dirancang khusus sesuai nilai, harapan, dan jati diri pemiliknya. Pendekatan ini dinilai efektif menarik minat generasi muda untuk mengenal dan mencintai tradisi perkerisan.
Personalisasi bukan berarti meninggalkan pakem. Justru dengan memahami karakter,pamor, dan racikan, seorang empu bisa mencipta karya baru yang tetap berpijak pada tradisi lama. Di sinilah kreativitas bertemu dengan pelestarian,
Pelestarian keris memerlukan tiga hal: regenerasi empu, edukasi publik, dan ruang apresiasi. Kreativitas seperti yang ditunjukkan Empu Puryadi menjadi jembatan agar keris tetap hidup, tidak hanya sebagai artefak museum, tetapi sebagai warisan budaya yang terus bernafas.













