Radikalisme di Indonesia berkembang karena faktor dari luar negeri dan dalam negeri. Dari luar negeri masuknya ideologi ISIS yang menumbuhkembangkan radikalisme di Indonesia. Sedangkan dari dalam negeri penyebabnya karena ketidaksiapan politisi khususnya politisi yang menggunakan jargon – jargon agama di dalam politik praktis sehingga memanipulasi agama untuk kepentingan politik. Dengan begitu membuat nama agama jadi tercemar dan rusak, ucap dosen FISIP Universitas Bung Karno.
“Kita harus kembalikan citra Islam sebagai agama yang humanis, dimana yang diajarkan bukan hanya fiqih tetapi juga mengajarkan bagaimana hubungan sesama manusia, hubungan individu dengan masyarakat, dan hubungan agama dengan negara,” kata Faisyal.
Untuk generasi muda di era keterbukaan saat ini, jadikan sosial media itu sebagai alat propaganda untuk membangkitkan semangat hidup bernegara dan mewujudkan harmonisasi. Jangan sampai menggunakan sosial media untuk menimbulkan kebencian dan menyebarkan hoaks. Selanjutnya cintailah negara maka secara otomatis akan cinta kepada negara, tutup Faisyal. (Red).













