Bandung, BEDAnews,-
Salah satu peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat Jenderal (TNI) (Purnawirawan) Endriartono Sutarto kembali mengunjungi kota Bandung. Kali ini mantan Panglima TNI (2002-2006) ini bertemu dengan para alumni SMAN 2 Bandung dan mengunjungi kantor media yang ada di Bandung.
“Peran media sangat penting, yakni sebagai ujung tombak sarana sosialisasi sekaligus memajukan kecerdasan masyarakat,” ujar Endriartono dalam temu alumni SMAN 2 Bandung di Hotel Preanger Bandung, Kamis (27/2). Namun, bagai pisau bermata dua, media juga dimanfaatkan sebagai alat propaganda dan kampanye bagi mereka yang berkepentingan. “Media sebagai industri dapat dimiliki oleh orang yang memiliki uang dan kepentingan,” ungkap Endriartono yang akrab disapa Kang Tono ini mengenai alasannya mengunjungi media di Bandung.
Dihadapan para alumnus, Endriartono memaparkan visi dan misi kepemimpinannya dalam pembangunan infrastruktur, peningkatan nilai kebangsaan, persatuan dan kesatuan, pembangunan sektor kelautan, transportasi, pengembangan sektor ekonomi, termasuk soal buruh. Endriartono menyatakan, era buruh murah di Indonesia harus segera ditinggalkan. Pemerintah harus mempromosikan ke investor, terutamanya asing, bila buruh Indonesia tidak murah tapi produktif yang ujungnya menguntungkan. "Yang kedua adalah menekan biaya operasional industri usaha. Sehingga, pengusaha tidak berkeberatan menaikkan pendapatan buruh," imbuh mantan KASAD ini.
Tak hanya membahas visi dan misinya, Endriartono juga menyentil fenomena Jokowi. “Jokowi menjadi begitu terkenal karena ekspos media yang begitu besar. Hampir seluruh kegiatan Jokowi di sorot kamera,” ujarnya. Perhatian media yang begitu besar ini, lanjut Endriartono, menutupi tokoh-tokoh lainnya yang kini dianggap the Rising Star, seperti Ridwan Kamil (walkot Bandung) atau Risma (walkot Surabaya). “Masih banyak tokoh-tokoh muda yang layak muncul sebagai pemimpin,” tambahnya lagi. (Lanie)











