Bandung, BEDAnews,-
Salah satu peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat Jenderal (TNI) (Purnawirawan) Endriartono Sutarto meminta restu sesepuh dan warga Jawa Barat dalam mengikuti kegiatan tersebut.
"Sejak kecil saya di Bandung, sekolah di Bandung, tugas pertama saya ketika menjadi TNI di Garut kemudian kembali ke Bandung. Jadi, saya merupakan bagian dari warga Jabar," ujar Endriartono usai pertemuan dengan sesepuh, seniman, dan budayawan Jabar di sebuah rumah makan di Bandung, Selasa (4/2/2014). Menurut Endriartono, kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka menyerap masukan dan aspirasi dari masyarakat melalui para tokoh tersebut, sekaligus untuk mendapatkan restunya dalam proses dukungan di Konvensi PD. "Jawa Barat memiliki jumlah penduduk terbesar di Indonesia dan tentunya memiliki potensi sangat besar dalam berbagai hal," terangnya.
Dalam pertemuan yang dihadiri Solihin GP ini, Endriartono memaparkan visi dan misi kepemimpinannya dalam pembangunan infrastruktur, peningkatan nilai kebangsaan, persatuan dan kesatuan, pembangunan sektor kelautan, transportasi, pengembangan sektor ekonomi, termasuk soal buruh. Endriartono menyatakan, era buruh murah di Indonesia harus segera ditinggalkan. Pemerintah harus mempromosikan ke investor, terutamanya asing, bila buruh Indonesia tidak murah tapi produktif yang ujungnya menguntungkan. "Yang kedua adalah menekan biaya operasional industri usaha. Sehingga, pengusaha tidak berkeberatan menaikkan pendapatan buruh," imbuhnya.
Biaya operasional industri sendiri, kata Endriartono, adalah perijinan yang harus melewati beberapa meja, lalu penggunaan listrik yang tarifnya cukup besar dan membuat pengusaha sedikit menekan upah bagi para buruh, juga infrastruktur yang belum mendukung industri murah. "Lalu, kebanyakan alat-alat industri menggunakan solar yang harganya cukup mahal. Kalau pengusaha menggunakan batu bara atau energi murah lainnya, biaya operasional bisa ditekan," tuturnya. Tak hanya fokus pada buruh, ia juga menyampaikan beberapa konsep peningkatan kesejahteraan rakyat, antara lain dengan meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan sumber daya alam, mendorong potensi diri serta memaksimalkan peluang dan potensi yang dimiliki.
"Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah. Ke depan perlu strategi untuk memberdayakan potensi itu menjadi sebuah pemecahan untuk kesejahteraan rakyat. Kita punya laut yang masih menyimpan kekayaan yang masih bisa dimaksimalkan, punya mineral yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat," paparnya. (Lanie)











