KAB. BANDUNG || bedanews.com — Membuka lembaran masa lalu dengan mengingat kegembiraan masa kecil, tidak ada yang memungkiri kebahagiaan saat itu. Sungai Citarum jadi tempat melepaskan penat, untuk berenang, mencari ikan, belut, katak hijau, lele, gabus, bahkan menjadi sarana memancing masyarakat. Semua bisa bersuka cita mengisi waktu liburan.
Juga setiap lahan kosong bisa dipergunakan untuk sarana kaulinan (bermain) anak-anak dan dewasa. Baik itu bermain sepak bola, kasti, sorodot gaplok, petak umpet, sumput beling, oray-orayan, lompat tali, keprokan, sondah, balap lari ban motor bekas, dan permainan lainnya, bisa dilakukan suka cita hingga menjelang Maghrib.
Setelah bermain mandi di air pancuran atau sumur lalu mengaji di mushola yang hanya diterangi cahaya lampu minyak tanah tempel hingga bada Isya. Selanjutnya menghapal pelajaran sebelum pukul 21.00 WIB malam untuk tidur.
Kadangkala sebelum tidur masih menyempatkan diri menangkap jangkrik, untuk dilombakan suaranya di keesokan harinya bersama teman-teman lain. Dan jahilnya, kucing liar atau peliharaan sengaja dipotong kumisnya sebagai alat penggelitik jangkrik agar mengerik.
Jenis makanan yang dikonsumsi pun sederhana dan murah meriah, seperti, ongol-ongol, urab sampeu sambel oncom, urab kangkung, putu mayang, puteri noong, nagasari, katimus, buah jamblang ditaburi gula putih, dan makanan lainnya yang bisa sangat terjangkau harganya.
Tapi semua tinggal cerita yang tak mungkin bisa kembali. Hanya sebait kisah bahagia yang pastinya generasi sekarang tak akan mengalami kejadiaan tersebut. Sebab semua sudah berubah wujud. Lahan kosong sudah menjadi perumahan elite yang tak terjangkau harganya oleh masyarakat, sungai-sungai tak lagi menjanjikan bersih karena sudah terkontaminasi dengan racun limbah.
Bagaikan angin berhembus, masa lalu terasa tapi tak dapat diraba. Terkubur dalam laju perkembangan zaman, terseret diderasnya kebutuhan hidup, hingga tata krama terhadap alam seolah dikesampingkan. Dan masyarakat hanya mampu menatap dingin hilang gairah, seolah berat untuk melangkah serta tersekat saat mau berteriak. Alam sudah mulai hilang silaturahmi, persahabatan dengan alam kini hanya tinggal sebatas kata.***













