Blok Andaman yang saat ini dioperasikan oleh Mubadala Energy diperkirakan memiliki cadangan fantastis mencapai 11 triliun kaki kubik (TCF) gas serta potensi total kawasan mencapai 4,9 miliar barel setara minyak [05:36]. Fachrul Razi menaksir nilai ekonomi blok ini berkisar antara 250 hingga 300 miliar US Dolar atau lebih dari Rp5.000 triliun.
Ia mengkhawatirkan, jika pengelolaan dilakukan secara offshore, Aceh hanya akan menjadi penonton. Berbeda dengan era PT. Arun yang dikelola secara onshore di darat, yang meskipun menyisakan kemiskinan, setidaknya sempat menghidupkan infrastruktur lokal seperti KEK Arun, Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan menciptakan ribuan lapangan kerja terampil bagi putra daerah.
Untuk menyelamatkan masa depan Aceh, Dr. Fachrul Razi mendesak adanya langkah konkret, di antaranya melakukan revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA): Khususnya Pasal 150 yang membatasi kewenangan pengelolaan laut Aceh hanya sejauh 12 mil laut. Fachrul Razi meminta batasan ini dikembalikan menjadi 200 mil laut (Zona Ekonomi Eksklusif/ZEE) sesuai dengan semangat asli MoU Helsinki demi mewujudkan pengelolaan bersama (joint management).













