“Kalau kebijakan itu offshore dan pipanya ditarik langsung ke Pulau Jawa, itu membuktikan bahwa negara ini enggak butuh Aceh, dia hanya butuh minyak dan gas Aceh, tapi enggak butuh rakyat Aceh,” tegas Fachrul Razi dalam wawancara tersebut
Fachrul Razi membeberkan data historis yang mencengangkan mengenai kontribusi Aceh terhadap pembangunan nasional. Berdasarkan risetnya, sejak tahun 1974 hingga 2014, dari ladang gas PT. Arun saja, Aceh telah menyumbang lebih dari Rp5.000 triliun (setara 4.269 kargo minyak/gas dan 1.868 kargo kondensat) untuk republik. Namun ironisnya, melalui Dana Otonomi Khusus (Otsus) selama 20 tahun, Aceh hanya menerima pengembalian sekitar Rp98 triliun.
“Modal pembangunan Orde Baru, jalan tol dan infrastruktur di Jakarta, akumulasinya berasal dari migas Aceh. Namun apa yang didapat Aceh hari ini? Kemiskinan dan pengangguran. Ketimpangan di masa lalu inilah yang memicu konflik bersenjata selama 30 tahun sejak tahun 1976,” jelasnya.













