NGANJUK || Bedanews.com – Langit biru terlalu jauh, awan lalu enggan meneteskan rindu. Di ladang yang gersang, meski keringat jatuh bercucuran, namun air tak pernah pasti.
Berbekal do’a yang disulam setiap pagi, para petani tetap menanam harap di tanah yang kering dan retak. Saat sawah memucat, daun hanya merunduk lesu dan bermimpi dapat menguning.
“Air di sini sangat susah, kami petani hanya bisa pasrah. Tanam ya sebisanya, kalau hujan ya mungkin bisa padi, tapi kalau nggak ada hujan ya terpaksa tanam lainnya. Kami nggak punya pilihan, daripada harus gagal panen dan merugi,” kata Sudiro, warga Desa Lengkong, beberapa waktu lalu.

Dengan kondisi itu, ia mengaku tak henti-hentinya berdo’a agar kesulitan itu segera berlalu dan kehidupannya bersama para petani lain di Desanya dapat lebih sejahtera.











