• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Rabu, Januari 14, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home » Diplomasi Rasa dari Bandung, Sensoritual Gastrodiplomacy Satukan Bangsa-Bangsa Asia Afrika

Diplomasi Rasa dari Bandung, Sensoritual Gastrodiplomacy Satukan Bangsa-Bangsa Asia Afrika

admin by admin
17 Oktober 2025
in News
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
BANDUNG, BEDAnews – Dentingan sendok logam, gemericik air, dan ketukan ulekan berpadu menciptakan irama yang tak biasa semakin menghangatkan suasana Pendopo Kota Bandung, Jumat 17 Oktober 2025.
Bukan orkestra, bukan gamelan, melainkan musik yang lahir dari dapur, tempat di mana aroma rempah, rasa, dan suara berpadu menjadi satu harmoni yang menenangkan jiwa.
Itulah suasana bagaimana cita rasa, budaya, dan diplomasi berpadu dalam sebuah perhelatan bertajuk “Pesuguhan: A Sensoritual Gastrodiplomacy”, bagian dari rangkaian Asia Africa Youth Forum (AAYF) 2025.
Acara ini menghadirkan pengalaman kuliner yang bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga mengangkat nilai-nilai spiritual, kemanusiaan, dan kerja sama antarbangsa melalui makanan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan membuka acara dengan sebuah refleksi sederhana. Ia bercerita tentang pengalamannya berkeliling dunia, menemukan bahwa cita rasa dapat menembus batas bahasa dan perbedaan.
“Saya pernah ke New York dan menyaksikan bagaimana restoran Korea bisa mengubah wajah sebuah jalan. Itulah kekuatan gastrodiplomasi, diplomasi melalui rasa,” ujarnya di hadapan tamu undangan dari berbagai negara, termasuk Rwanda, Guinea, Uni Emirat Arab, dan Papua Nugini.
Farhan menyebut, kuliner bukan sekadar urusan dapur atau bisnis. Ia adalah bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang kini tengah tumbuh pesat di Indonesia, dengan Bandung sebagai salah satu pusatnya.
“Makanan tradisional seperti bubur hanjeli atau wedang tebu bukan hanya hidangan lokal, tetapi juga simbol ketahanan pangan dan identitas bangsa,” tambahnya.
Baginya, pesuguhan hari itu adalah ajakan untuk memahami kekuatan rasa: bagaimana satu sendok makanan bisa menghadirkan kedekatan, kepercayaan, bahkan perdamaian.
Sementara itu, Sekretaris Kemenparekraf, Dessy Ruhati menjelaskan, sensorial gastrodiplomacy adalah bentuk diplomasi rasa yang memadukan unsur indra: rasa, aroma, tekstur dengan nilai spiritualitas seperti syukur, refleksi, dan empati.
Ia menyebutkan, sebagai pendekatan baru yang lahir dari kekayaan kuliner Nusantara dan menjadi sarana untuk memperkuat solidaritas antarbangsa.
“Makanan sederhana seperti tiwul, gatot, cireng, atau papeda membawa jiwa leluhur kita. Dari keterbatasan, lahir kreativitas dan ketangguhan. Itulah semangat sensorial gastrodiplomacy,” jelasnya.
Dessy memaparkan peran penting kuliner dalam ekonomi kreatif Indonesia, yang kini menjadi sektor strategis penggerak perekonomian nasional.
Menurutnya, ekonomi kreatif adalah hasil perpaduan antara budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi dengan kuliner sebagai salah satu pilar utamanya.
“Ekonomi kreatif bukan ide baru, tapi terus berkembang seiring waktu dan teknologi. Lebih dari 80 persen pelakunya adalah milenial dan Gen Z, generasi kreatif yang membawa cita rasa Indonesia ke dunia,” paparnya.
Ia menambahkan, berbagai program seperti Indonesia Spice Up the World, Creative Culinary Hubs, dan Bangga Buatan Indonesia menjadi wadah untuk memperkenalkan kuliner Nusantara ke pasar global.
Selain itu, kolaborasi antara Kemenparekraf dan Kementerian Luar Negeri juga telah melahirkan inisiatif Gastro Diplomacy Local Experience di Lombok, yang melibatkan puluhan perwakilan asing untuk belajar langsung tentang kuliner Indonesia.
“Melalui rasa, aroma, dan cerita, mereka menemukan kekuatan sejati dari cita rasa dan kebersamaan. Di sanalah sensorial itu dimulai — bukan di lidah, tapi di hati,” ungkap Dessy.**

BeritaTerkait

Di Hadapan PWI, Ahmad Muzani: Hati Saya Masih Wartawan

14 Januari 2026

Tingkatkan Kualitas Loket Layanan Pertanahan, Menteri Nusron: Bekali Petugas Product Knowledge dan Hospitality

14 Januari 2026
Tags: Asia Africa FestivalAsia Africa Youth Forum 2025Bandung kota kreatifdiplomasi budayadiplomasi rasaEkonomi KreatifKemenparekrafkuliner NusantaraMuhammad FarhanSensoritual GastrodiplomacyWali Kota Bandung
Previous Post

Danlanal Bintan Hadiri Acara Pemusnahan Barang Bukti Narkoba di BNN Provinsi Kepri

Next Post

Giliran Warga Desa Sidorejo Ngawi yang Mendapat Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis

Related Posts

News

Di Hadapan PWI, Ahmad Muzani: Hati Saya Masih Wartawan

14 Januari 2026
News

Tingkatkan Kualitas Loket Layanan Pertanahan, Menteri Nusron: Bekali Petugas Product Knowledge dan Hospitality

14 Januari 2026
Ekonomi

Program Family Strengthening, Wakil Ketua YBM BRILiaN Region 9: Bantuan Berkelanjutan yang Berorientasi pada Kemandirian Keluarga

14 Januari 2026
News

UMC Gandeng UEF Vietnam, Buka Akses Pertukaran Mahasiswa dan Riset Global

14 Januari 2026
Edukasi

Penurunan Kuota Binaan dan Rencana Alih Fungsi Lahan PSBR Ciganjeng Jadi Sorotan DPRD

13 Januari 2026
Ustad AMUH saat memberikan Tausiah Hikmah Isra Miraj  di Mesjid Alqodiriyah Cibeureum RW 17/dok.istimewa
Edukasi

Ustadz AMUH Paparkan Hikmah dan Refleksi Isra Miraj: Istiqomah Menjaga Hidayah

13 Januari 2026
Next Post

Giliran Warga Desa Sidorejo Ngawi yang Mendapat Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com © 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com © 2021