Persoalan bangsa ini, menurutnya, juga berkaitan dengan identitas kebangsaan dan budaya yang mulai luntur.
Perwakilan PGWI Jabar, Pdt. Paulus menilai persoalan radikalisme ini tidak sederhana karena sehari-hari menyaksikan seolah baik-baik saja tetapi sebetulnya seperti api dalam sekam.
“Orang yang tampak santun dan agamis ternyata adalah pelaku kekerasan, korupsi, dan kejahatan lainnya, seperti ada terpecahnya kepribadian bangsa,” ucapnya.
Selain itu, kata dia, kurang tegas dan berfungsinya penegakan hukum di Indonesia yang masih tebang pilih.
“Ada kecenderungan agama bisa menjadi sesuatu yang mengadiksi,” imbuhnya.
Mohammad, perwakilan dari GP Ansor Kota Bandung menyampaikan, Pemuda Ansor sedang fokus pada pendidikan moderasi beragama.
Ia menyebut, salah satu alasan radikalisme tumbuh subur di Jabar terutama di kota Bandung karena ada bentuk ‘pemeliharaan’ oleh para elit politik.













