Mentalitas ini tumbuh ketika budaya asal bapak senang dianggap sebagai kecakapan, ketika laporan lebih indah daripada kenyataan, ketika statistik dipoles agar terlihat sempurna, dan ketika orang yang jujur justru dicap sebagai pembuat masalah.
Korupsi memang menggerogoti uang negara. Tetapi budaya anti-kritik menggerogoti kemampuan negara untuk memperbaiki dirinya sendiri. Yang satu menguras kas negara, yang lain menguras keberanian moral bangsa.
Bangsa yang kehilangan keberanian mengoreksi diri sesungguhnya sedang menyiapkan panggung bagi kesalahan yang akan terus berulang.
*Perang Terbesar Hari Ini Terjadi di Dalam Pikiran*
Perang abad ke-21 tidak selalu dimulai oleh letusan senjata. Ia sering dimulai oleh perebutan persepsi.
Disinformasi, manipulasi opini, polarisasi sosial, dan propaganda digital kini menjadi instrumen strategis yang mampu melemahkan sebuah negara tanpa satu pun peluru ditembakkan. Yang diserang bukan hanya wilayah, melainkan kepercayaan masyarakat terhadap sesama anak bangsa.













