Dulu kita mengenal Londo Ireng, anak bangsa yang menjadi alat kekuasaan kolonial. Hari ini, ancamannya lebih rumit. Ia tidak lagi berbicara dengan bahasa penjajah. Ia berbicara atas nama bangsa. Ia tidak mengibarkan bendera asing. Ia berdiri di bawah Merah Putih. Namun cara berpikirnya tetap memandang kritik sebagai musuh dan kepatuhan sebagai ukuran utama cinta kepada negara.
Inilah metafora Londo Coklat: bukan tentang warna kulit, melainkan tentang cara berpikir yang rela mengorbankan akal sehat demi kenyamanan kekuasaan.
*Negara yang Takut Kritik Sedang Kehilangan Kepercayaan Diri*
Kekuatan negara bukan hanya diukur oleh jumlah prajurit, rudal, atau besarnya anggaran. Negara yang benar-benar kuat adalah negara yang cukup percaya diri untuk mendengar suara yang berbeda.













