Cimahi, BEDAnews-
Pesta Demokrasi lima tahunan yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih bergulir. Saat ini usai pemungutan suara 9 April 2014 lalu prosesnya masih berlangusng, dengan dilakukannya perhitungan suara mulai dari tingkat kelurahan (Panitia Pemungutan Suara), kecamatan (Panitia Pemilihan Kecamatan) hingga kabupaten/kota (Komisi Pemilihan Umum). Ada fenomena yang menarik saat tahapan pesta demokrasi lima tahunan ini berlangsung sejak penetapan daftar calon, masa kampanye hingga proses penghitungan suara. Dari mulai isu poltik uang, kampanye hitam hingga saling sikutnya antara satu Caleg dalam satu partai, pengelembungan suara dan iming-iming pemberian uang untuk merubah angka hasil pemilihan.
Sejak perhitungan dimulai pada usai Pemungutan suara 9 April lalu, beberapa pesan singkat tentang adanya isu pengelembungan suara pun muncul. Seorang Caleg A misalnya, diduga melakukan mark up suara di sebuah TPS. Ada lagi telpon dari seorang Caleg yang mengaku kalah namun ingin supaya hasil suaranya bisa ada perubahan. Ada pula yang mengaku dirugikan karena suaranya jadi lebih kecil dari rekan Calegnya. “Saya heran kenapa dalam semalam koq tiba-tiba suara saya berubah,” ujar seorang Caleg sebuah partai sambil membawa sejumlah berkas.
Saat berbincang dengan salah seorang Ketua Panitia Pemilihan Suara (PPS) disela-sela penghitungan hasil suara, ada sejumlah pihak yang diduga mencoba untuk memberikan sejumlah uang supaya dia melakukan manipulasi angka hasil suara. Sambil memperlihatkan pesan singkat yang masuk ke telpon genggamnya, Bintang, sebut saja nama Ketua PPS tersebut mengatakan, dirinya merasa ptihatin dengan adanya upaya-upaya tidak sehat yang dilakukan para Caleg. “Tampaknya masyarakat kita belum siap untuk berdemokrasi, pemilih masih saja tergiur dengan pemberian materi atau barang yang diberikan caleg.Begitupun saat perhitungan suarapun banyak Caleg yang mencoba memberi iming-iming kepada saya untuk merubah hasil suara , ini menandakan masyarakat kita masih ‘sakit’, apa jadinya negeri ini jika masyarakat dan para wakil rakyatnya sudah begini,” ujarnya sambil menghisap sebatang rokok kretek.
Dari pesan singkat yang ditunjukkannya, mayoritas iming-iming itu disampaikan oleh tim atau Caleg di tingkat Kota namun ada juga Caleg DPR RI. Angkanya mulai dari jutaan, puluhan juta hingga ratusan juta rupiah. Selain menawarkan iming-iming uang dirinyapun beberapa kali diajak bertemu dengan seseorang, namun hal itu dia tolaknya, karena berbenturan dengan nurani. “Kita semua sudah diajarkan untuk patuh dan taat aturan, namun yang menyedihkan katanya para wakil rakyat itu salah satu fungsinya adalah melahirkan aturan dalam mengelola pemerintahan untuk ditaati oleh seluruh masyarakat, sebagai penyelenggara sudah seharusnya kita tetap tegak menjaga kewibawaan lembaga pemilihan ini,” pungkasnya mengakhiri obrolan.
Lain lagi cerita dari beberapa Caleg yang merasa dirugikan akibat ulah oknum tertentu. Beberapa Caleg mengaku sudah melaporkan dugaan kecurangan kepada Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu). “tadi sore saya sudah melaporkan hal ini kepada Panwaslu,” kata seorang Caleg diujung telpon.
Hingga kini, proses perhitungan hasil suara pemilihan masih terus berlangsung. hingga tibanya masa penetapan Caleg terpilih oleh Komisi Pemilihan Umum sampai pelantikan para wakil rakyat yang dijadwalkan berlangsung pertengahan Agustus 2014. (bun)











