Masyarakat Sunda menvisualisasikan kalau penguasa Laut Pantai Selatan itu sebagai wujud wanita cantik jelita yang berpakaian hijau. Sehingga setiap pengunjung pantai tidak diperkenankan memakai baju hijau. Hal itu terus berjalan dari waktu-waktu hingga saat ini di era digitalisasi. Ratu Pantai Selatan itu menurut kepercayaan masyarakat ketika menampakkan diri, mengendarai kereta kencana dengan mahkota dikepalanya saat turun dari singgasananya untuk melakukan pengawasan.
Bahkan ketika ada korban tenggelam selalu dikaitkan dengan keberadaannya, bahwa Kanjeng Ratu marah kepada korban dengan cara menghukumnya sengaja ditenggelamkan. Bila tidak ditemukan jasad korban tenggelam, masyarakat mengasumsikan kalau korban dijadikan budak atau ponggawanya.













