“Kalau saya tidak merokok, merokok hanya situasional hanya menemani, tetapi saya juga tidak anti merokok. Seperti konteks culturalnya sama dengan orang Eropa yang tidak boleh minum alkohol atau wine. Ini kita tidak berbicara tentang agama ya, jadi wine bagi mereka yang orang itali atau negara lain, sebelum tidur mereka meminum wine untuk bisa menghangatkan. Namun memang tetap harus dibatasi,” terang Dandim.
Menurut pandangan Dandim, mudarat rokok, asal tidak dilaksanakan berlebihan dan dalam keadaan berimbang itu tidak ada masalah.
“Kalau rokok ilegalnya mudaratnya lebih besar. Kita tidak memungkiri rokok di Indonesia ini hampir kebutuhan pokok. Sekarang kita coba kemarin puasa saat beduk minum tapi gak makan. Tapi bagi perokok itu pasti akan merokok dulu. Karena itu sebagai kebutuhan. Mudaratnya jika ilegal itu pasti dapat merugikan negara. Berbeda dengan yang legal, karena dari rokok yang legal tadi akan kembali lagi ke kita manfaatnya,” pungkasnya. (Red/Pendim 0716/Demak).













