Garut, BEDAnews
Curug Sanghyang Taraje yang berada di ketinggian 660 m dpl dengan tinggi air terjun sekitar 82 m, yang terletak di Kp. Kombongan Desa Pekenjeng, Kecamatan Pamulihan, atau sekitar 47 km dari pusat kota Garut, merupakan salah satu tempat wisata alam yang berpotensi untuk dikembangkan pemerintah kabupaten Garut.
Untuk mencapai lokasi, dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum berjenis minibus (Elf) dari Garut menuju Pakenjeng dengan ongkos Rp. 10 ribu, selanjutnya diteruskan dengan ojek menuju lokasi air terjun dengan ongkos Rp. 10 ribu. (sewaktu-waktu bisa berubah).
Rute yang dapat ditempuh menuju Sanghyang Taraje, dari Garut kota ke Selatan, arah Cikajang, di pertigaan Cikajang belok kanan. Nantinya ketemu Kawah Papandayan (mesti belok kanan lagi), Curug Orok (di PTP VIII), terus masih jauh ke selatan dan belok kanan di pertigaan Pakenjeng (Cisandaan) terus melewati Curug Utang, Sanghyang Santen, kemudian Sanghyang Taraje.
Curug Utang dan Sanghyang Santen, hanya bisa dilalui dengan berjalan menembus hutan dan turun ke jurang. Sementara menuju Sanghyang Taraje, jalannya naik turun dan hanya bisa dilalui sepeda motor yang kuat.
Dikatakan kepala Disbudpar Kabupaten Garut, Yatie Rohayati, asal mula air terjun ini disebut Sanghyang Taraje konon katanya karena masih ada kaitannya dengan legenda salah satu anaknya Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran, yaitu Kian Santang, yang hendak mengambil bintang untuk Dayang Sumbi melewati curug ini, maka dinamailah curug ini Sanghyang Taraje.
Konon juga di area curug ini, Kian Santang menyimpan salah satu benda berharga yang dijaga oleh Lubang raksasa yang katanya memiliki telinga sebesar hihid (kipas terbuat dari bambu), dan seringkali dilihat oleh masyarakat.
Kawasan air tejun ini dikelola oleh pihak perhutani, tapi kini pengelolaannya agak terlantar sehingga kawasan air terjun ini tidak terkelola dengan baik. Adapun masyarakat yang kemudian mencoba untuk mengelola kawasan ini namun hanya pada saat hari raya dan libur nasional.
Taraje dalam bahasa Indonesia berarti tangga. Biasanya terbuat dari bambu. Jika ada sebuah curug (air terjun) diberi nama Sanghyang Taraje, tentulah ada hubungannya dengan taraje. Demikianlah adanya, curug yang terletak di Desa Pakenjeng Kecamatan Pamulihan Garut ini memang mirip taraje. Masyarakat di sekitarnya sering juga menyebutnya curug kembar, karena di situ ada dua pasang air terjun yang mirip tiang tangga.
Curug Sanghyang Taraje tidak terlalu dikenal masyarakat Garut. Namun begitu bukan karena air terjun ini kurang elok. Dibentuk oleh dua air terjun berdampingan yang tingginya sekitar 90 meter, curug ini merupakan curug tertinggi yang ada di Kabupaten Garut. Di samping itu panorama curug ini cukup indah untuk dinikmati. Hanya saja jalan untuk menuju ke Sanghyang Taraje masih cukup sulit untuk dijangkau kendaraan karena letaknya berada jauh di pelosok perbukitan.
Untuk menuju curug ini bisa ditempuh dari arah Pamulihan atau dari arah Jati, Kecamatan Pakenjeng. Orang harus berjalan kaki untuk menuju curug ini. Namun kelelahan setelah menuruni dan mendaki perbukitan, akan segera sirna jika sudah mendapati keindahan panorama curug. Sayangnya, baru masyarakat sekitar curug saja yang banyak menikmati keindahannya, ujar Yatie kepada Bedanews.com Jum’at (15/3). (Sighar)











