Sama halnya dengan perjuangan beliau di Tha’if, selama 10 hari di sana baginda Nabi mendapati siksaan berupa fisik juga hinaan dan fitnah. Ketika itu Nabi mendatangi para pemuka suku di sana, namun yang didapati malah siksaan dan hinaan dari seluruh penduduk Tha’if. Beliau dilempari batu, kotoran hewan, difitnah sebagai pembohong juga penyihir, bahkan ketika Rosul shollallaahu ‘alaihi wa salam hendak meninggalkan kota Tha’if, siksaannya tak cukup di situ.
Di gerbang Tha’if telah berjejer 2 baris pemuda sambil mengepalkan tangan mereka dan memukul baginda Nabi sampai tubuhnya bersimbah darah. Lalu kemudian datanglah malaikat Jibril menawarkan kepada Nabi untuk menimpakan azab kepada seluruh penduduk Tha’if, namun sembari baginda menyeka darah dari tubuhnya berkata, “wahai Jibril, aku masih berharap bahwa ada anak keturunan mereka yang mau beriman kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, mereka berperilaku demikian karena mereka tidak tahu. Dan aku tidak ingin azab Allah menimpa mereka”. Betapa mulianya baginda Nabi shollallaahu ‘alaihi wa salam yang senantiasa memaafkan atas sikap kedzaliman yang dilakukan penduduk Tha’if. Seandainya bukan karena kemurahan hati baginda Nabi, maka negeri Tha’if sudah menjadi negeri penuh azab.













