Oleh: Muhammad Rofik Mualimin
MAGELANG || Bedanews.com – Sore itu, udara di sekitar pelataran Candi Borobudur terasa berbeda. Di hadapan monumen agung peninggalan Wangsa Syailendra yang berdiri kokoh menembus abad, ribuan pasang mata terdiam. Bukan karena lelah mendaki undakan batu, melainkan karena getaran suara seorang maestro tunanetra asal Italia, Andrea Bocelli. Ketika bait demi bait Time to Say Goodby menggema di antara rerimbunan pepohonan Magelang dan berlanjut ke riuhnya JiExpo Kemayoran, Jakarta, ada satu tanya yang menyelinap di benak saya: di tengah dunia yang hari ini kian bising oleh amarah dan sengketa, mengapa kita harus meminjam seni opera untuk merawat kemanusiaan?
Sebagai peneliti yang kerap mengamati denyut nadi sosial di tingkat akar rumput, saya melihat fenomena ini bukan sekadar peristiwa hiburan kelas atas. Konser bertajuk damai ini menjelma menjadi ruang katarsis kolektif. Mari kita tengok ke bawah, ke warung-warung kopi pinggir jalan hingga bilik-bilik pesantren di desa saya di Bantul. Masyarakat kita hari ini sedang lelah. Beban ekonomi pascapandemi, riuhnya kontestasi kuasa, hingga polarisasi digital yang memecah belah keluarga membuat solidaritas sosial mengalami erosi. Kehadiran musik klasik bercorak kemanusiaan seolah meniupkan embun sejuk di tengah terik kecemasan.
Namun, di sinilah letak titik kritis yang harus kita bedah secara ilmiah namun membumi. Sosiolog kebudayaan terkemuka, Pierre Bourdieu, dalam karyanya Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (London: Routledge, 1984, hlm. 28), mengingatkan bahwa selera kulturalโtermasuk menikmati opera kelas duniaโkerap kali menjadi arena reproduksi status sosial. Tiket konser berharga jutaan rupiah tentu bukan konsumsi warga dusun yang sedang pusing memikirkan harga pupuk.
Lantas, di mana letak “kemanusiaannya”? Apakah perdamaian ini hanya milik mereka yang berpenasihat rapi di kursi VVIP JiExpo Kemayoran?
Di sinilah kita perlu mendudukkan persoalan secara jernih. Seni, dalam pandangan sosiolog seni Arnold Hauser dalam buku monumentalnya The Social History of Art, Volume 4 (Routledge: London, 1999, hlm. 112), memiliki daya otonom sekaligus fungsi transformatif. Ketika suara Bocelli didedikasikan untuk misi kemanusiaan, gaungnya melampaui batas sekat kelas. Melalui layar gawai di pos ronda, tukang ojek online di Yogyakarta hingga petani di Magelang turut merasakan getaran emosi yang sama: bahwa penderitaan anak-anak korban perang di berbagai belahan dunia adalah luka kita bersama. Musik merobohkan sekat eksklusivitas.
Di sinilah relevansi pemikiran sosiolog agama Martin van Bruinessen dalam karyanya Contemporary Developments in Indonesia (Singapore: ISEAS, 2013, hlm. 85) tentang bagaimana ruang publik Indonesia hari ini mendambakan titik temu kultural yang meredakan ketegangan identitas. Konser damai ini membuktikan bahwa bahasa nurani jauh lebih fasih menyatukan ketimbang pidato-pidato politisi yang sering kali kering makna.
Pada akhirnya, Borobudur dan Kemayoran telah menjadi saksi bisu bahwa kemanusiaan tidak butuh paspor atau kelas sosial. Ia hanya butuh hati yang mau mendengar. Dan di hadapan seni yang jujur, kita semua kembali diingatkan untuk menjadi manusia seutuhnya.***
Penulis adalah:
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.













