• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Sabtu, Oktober 31, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home ยป Catatan Dari Candi Ke Panggung Megah: Ketika Suara Andrea Bocelli Menyapa Nurani Kita

Catatan Dari Candi Ke Panggung Megah: Ketika Suara Andrea Bocelli Menyapa Nurani Kita

angel angel by angel angel
31 Oktober 2026
in Ragam
0
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

Oleh: Muhammad Rofik Mualimin

MAGELANG || Bedanews.com – Sore itu, udara di sekitar pelataran Candi Borobudur terasa berbeda. Di hadapan monumen agung peninggalan Wangsa Syailendra yang berdiri kokoh menembus abad, ribuan pasang mata terdiam. Bukan karena lelah mendaki undakan batu, melainkan karena getaran suara seorang maestro tunanetra asal Italia, Andrea Bocelli. Ketika bait demi bait Time to Say Goodby menggema di antara rerimbunan pepohonan Magelang dan berlanjut ke riuhnya JiExpo Kemayoran, Jakarta, ada satu tanya yang menyelinap di benak saya: di tengah dunia yang hari ini kian bising oleh amarah dan sengketa, mengapa kita harus meminjam seni opera untuk merawat kemanusiaan?

Sebagai peneliti yang kerap mengamati denyut nadi sosial di tingkat akar rumput, saya melihat fenomena ini bukan sekadar peristiwa hiburan kelas atas. Konser bertajuk damai ini menjelma menjadi ruang katarsis kolektif. Mari kita tengok ke bawah, ke warung-warung kopi pinggir jalan hingga bilik-bilik pesantren di desa saya di Bantul. Masyarakat kita hari ini sedang lelah. Beban ekonomi pascapandemi, riuhnya kontestasi kuasa, hingga polarisasi digital yang memecah belah keluarga membuat solidaritas sosial mengalami erosi. Kehadiran musik klasik bercorak kemanusiaan seolah meniupkan embun sejuk di tengah terik kecemasan.

BeritaTerkait

Mata Air Kebaikan: Mengenang Sahabat Fathan Subchi

31 Oktober 2026
FOTO BERSAMA: Asep Herman (tengah) dengan para tim promotor dan Penguji usai Sidang Promosi Doktor di Pascasarjana UIN SGD Bandung/Jumat,30/10/2026/Dok.Bedanews.com/yadi

Riset Tentang MBG Gunakan Metode TAMKIN, Asep Herman Raih Doktor Hukum Islam

31 Oktober 2026

Namun, di sinilah letak titik kritis yang harus kita bedah secara ilmiah namun membumi. Sosiolog kebudayaan terkemuka, Pierre Bourdieu, dalam karyanya Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (London: Routledge, 1984, hlm. 28), mengingatkan bahwa selera kulturalโ€”termasuk menikmati opera kelas duniaโ€”kerap kali menjadi arena reproduksi status sosial. Tiket konser berharga jutaan rupiah tentu bukan konsumsi warga dusun yang sedang pusing memikirkan harga pupuk.

Lantas, di mana letak “kemanusiaannya”? Apakah perdamaian ini hanya milik mereka yang berpenasihat rapi di kursi VVIP JiExpo Kemayoran?

Di sinilah kita perlu mendudukkan persoalan secara jernih. Seni, dalam pandangan sosiolog seni Arnold Hauser dalam buku monumentalnya The Social History of Art, Volume 4 (Routledge: London, 1999, hlm. 112), memiliki daya otonom sekaligus fungsi transformatif. Ketika suara Bocelli didedikasikan untuk misi kemanusiaan, gaungnya melampaui batas sekat kelas. Melalui layar gawai di pos ronda, tukang ojek online di Yogyakarta hingga petani di Magelang turut merasakan getaran emosi yang sama: bahwa penderitaan anak-anak korban perang di berbagai belahan dunia adalah luka kita bersama. Musik merobohkan sekat eksklusivitas.

Di sinilah relevansi pemikiran sosiolog agama Martin van Bruinessen dalam karyanya Contemporary Developments in Indonesia (Singapore: ISEAS, 2013, hlm. 85) tentang bagaimana ruang publik Indonesia hari ini mendambakan titik temu kultural yang meredakan ketegangan identitas. Konser damai ini membuktikan bahwa bahasa nurani jauh lebih fasih menyatukan ketimbang pidato-pidato politisi yang sering kali kering makna.

Pada akhirnya, Borobudur dan Kemayoran telah menjadi saksi bisu bahwa kemanusiaan tidak butuh paspor atau kelas sosial. Ia hanya butuh hati yang mau mendengar. Dan di hadapan seni yang jujur, kita semua kembali diingatkan untuk menjadi manusia seutuhnya.***

Penulis adalah:
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Previous Post

Safety Riding Goes To Campus, Hati2DiJalan.Id menggelar acara perdana โ€œSafety Riding Goes To Campusโ€ di Universitas Muhammadiyah (Uhamka)

Next Post

Beri Nama “Berani”, Ini Harapan Danrem Erwin untuk Kodim 0810/Nganjuk

Related Posts

Ragam

Mata Air Kebaikan: Mengenang Sahabat Fathan Subchi

31 Oktober 2026
FOTO BERSAMA: Asep Herman (tengah) dengan para tim promotor dan Penguji usai Sidang Promosi Doktor di Pascasarjana UIN SGD Bandung/Jumat,30/10/2026/Dok.Bedanews.com/yadi
Ekonomi

Riset Tentang MBG Gunakan Metode TAMKIN, Asep Herman Raih Doktor Hukum Islam

31 Oktober 2026
Ragam

Sumur dari Demak, Mengenang Sahabat Fathan Subchi

31 Oktober 2026
Ragam

Tak Ada yang Terlewat, Seluruh Kecamatan dan Kelurahan di Jakarta Tuntas Mengisi SAQ E-Monev

31 Oktober 2026
Ragam

Safety Riding Goes To Campus, Hati2DiJalan.Id menggelar acara perdana โ€œSafety Riding Goes To Campusโ€ di Universitas Muhammadiyah (Uhamka)

31 Oktober 2026
Ragam

Pemilihan Senat 2026: Partai Republik bakal Unggul 53-47 Kursi atas Demokratย 

30 Oktober 2026
Next Post

Beri Nama "Berani", Ini Harapan Danrem Erwin untuk Kodim 0810/Nganjuk

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com ยฉ 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com ยฉ 2021