Sayangnya, tambah Kang Yadi sambil menerawang bersama kepulan asap rokok yang baru dikeluarkannya itu, karya seninya itu hanya menjadi pajangan, tidak pernah digunakan sama sekali.
Harapannya dulu, karyanya itu bisa menjadi bagian dari penyelenggaraan kesenian dimana pun. Ia meyakini dengan melakukan kolaborasi suara akan menghasilkan suara yang mungkin bisa lebih bagus serta menjadi Ikon Kabupaten Bandung.
Tapi itu hanya keinginan seorang seniman, karena hingga saat ini, menurutnya, karya seni hanya menjadi saksi bisu dari harapannya dan keinginannya untuk menjadikan seni dan budaya bisa tampil beda.
“Tidak ada lagi koordinasi atau bagaimana kelanjutannya dari karya seni saya tersebut. Bagaikan angin terasa hembusannya, bagaikan air terasa basahnya, tapi kenyataannya jauh untuk direngkuh,” pungkas dia.***













