Garut, BEDAnews
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut Zatzat Munazat melakukan peninjauan di Kecamatan Cisurupan, Pakenjeng, Sukaresmi, Pamulihan, dan Bayongbong terkait persiapan jika Gunung Papandayan meletus.
“Kami sudah instruksikan pada sejumlah muspika yang lokasinya masuk ke dalam wilayah terdampak dan wilayah sekitar untuk menginventarisir jalur evakuasi bagi warga,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut Zatzat Munazat kepada BEDAnews.com Rabu (8/5/2013).
Menurut Zatzat, pada Agustus 2011 lalu pihaknya telah menyiapkan jalur-jalur evakuasi di beberapa kecamatan. Namun karena adanya kemungkinan faktor kerusakan infrastruktur jalan, jalur-jalur yang telah ada ini perlu diperbaharui kembali. Tentunya, akan ada perubahan selama dua tahun ini. Apakah perlu dibuat jalur baru atau bagaimana.
Selain dengan muspika di tiap kecamatan, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan instansi terkait, khususnya Dinas PU untuk mencari solusi atas masalah ini. Bagaimana pun juga, akses jalan pada jalur evakuasi menjadi sangat penting untuk kelancaran para pengungsi dan angkutan logistik, jelasnya.
Tidak hanya akses jalan untuk jalur evakuasi, data jumlah penduduk pun perlu diperbaharui. Pembaruan data jumlah diperlukan untuk sejumlah keperluan lain seperti jumlah tenda darurat untuk tinggal sementara, bahan makanan, dan barang logistik lainnya.
Sejak meletus tahun 2002 dan peningkatan status gunung Papandayan pada 2011 lalu, pasti juga ada perubahan pada data penduduk. Jadi jumlah penduduk bisa berkurang atau bertambah. “Logistik kita harus siap untuk mengkaver kebutuhan penduduk,” paparnya.
Sementara itu, Ketua Pos Pengamatan Gunung Papandayan Momon mengatakan, status Gunung Papandayan hingga kini masih fluktuatif. Dengan demikian, zona bahaya dari kawasan kawah hingga 2 km masih dinyatakan tertutup untuk aktivitas manusia.
Hal yang harus diwaspadai adalah ancaman semburan gas beracun. Apalagi, gas ini sulit untuk dilihat secara kasat mata. “Memang, sejauh ini dari pengamatan kami belum ada semburan gas beracun. Tapi kita harus mengantisipasi jangan sampai ada aktivitas manusia di saat semburan itu terjadi,” katanya.
Menurut Momon, tingkat kegempaan kini cenderung mengalami penurunan bila dibandingkan dengan hari ditetapkannya status Siaga pada Minggu 5 Mei 2013 lalu. “Saat ini menurun kalau dibandingkan dengan beberapa hari lalu. Kita sendiri tidak tahu ini akan sampai kapan. Sebab, siapa tahu nanti aktivitasnya naik kembali,” pungkasnya. (Yanti)











